Kadang
Allah hadirkan beberapa orang dalam kehidupan kita guna memberikan
pelajaran besar. Kadang keberadaan mereka yang cuma sebentar itu
menorehkan luka cukup dalam. Mungkin terlalu dalam. Bahkan tak jarang
meninggalkan trauma berkepanjangan. Pilihan hidup manusia cuma ada dua.
Menjadi masa lalu atau masa depan seseorang. Takdirlah yang bekerja pada
fase ini. Acapkali kepergian orang tersebut membekaskan jejak hitam dan
memar pada hati yang tak lagi sehat. Sehingga kita harus benar-benar
menghapuskan segala memori tentangnya. Tentang keberadaan dia dalam
hari-hari kita. Tak mudah memang. Seringkali, air mata yang mengering
pada buku diary, menjadi saksi bisu pelajaran hidup. Acapkali, Tinta
hitam yang tertulis diatas kertas putih tentang betapa sakitnya hati,
menjadi sejarah kelam masa silam. Kita mencoba melupakan semua. Agar
masa depan dapat sedikit lebih terang. Agar secercah harapan muncul pada
hari-hari baru. Dan otak sempit ini berpikir bahwa WAKTU adalah
penyembuh terbaik dari segala kesakitan yang ada. Pikiran dangkal ini
mengira bahwa WAKTU adalah obat dari kepahitan yang terasa. Salah!
Setelah aku mengenal Tuhanku. Setelah aku berusaha menjadi hamba yang
tawakal kepadaNya. Baru aku tahu, Baru aku sadar, bahwa DIA adalah obat
dari segala. Rabbku adalah jawaban dari semua. Penyembuh terbaik dari
luka hati bukanlah berapa panjangnya waktu belajar ilmu IKHLAS, Bukan
pula berapa lama menjadi murid kehidupan dunia, Namun, Banyak-banyak
mengingat ALLAH sebagai Pencipta dari bumi yang maha luas. Sembuhkan
dirimu, sembuhkan segala kesakitan jiwamu, dengan mendekatkan raga serta
menundukkan akal dan pikiran, pada kuasa Allah..
No comments:
Post a Comment